Jumat, 26 Maret 2010

daerah tumbuh

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Pertumbuhan didefenisikan sebagai pertambahan volume secara irreversible karena banyak organ tanaman yang telah dewasa mengalami perubahan volume sepanjang siang dan malam karena perubahan sementara kandungan air turgitasnya. Pengukuran pertumbuhan juga berdasarkan panjang, lebar/luas, berat kering tanaman. Kebanyakan pertumbuhan terjadi pada fase pendewasaan sel hanya sedikit kenaikan volumenya (Tim Dosen, 2007).
Pada umumnya daerah pertumbuhan terletak pada bagian bawah moristem apikal dari tunas dan akar. Pada beberapa jenis tumbuhan, daerah pertumbuhannya terletak pada bagian atas setiap buku-buku. Pertumbuhan juga terjadi dibagian lainnya seperti didalam daun dimana sel-sel membesar sampai pada tingkat tertentu. Pertumbuhan secara lateral terjadi dengan membesarnya sel-sel yang terletak pada sisi-sisi jaringan kambium (Tim Dosen, 2007).
Melalui percobaan ini, akan dilihat bagaimana menentukan letak dari daerah pembesaran sel di samping daerah tumbuh ti belakang ujung moristem akar.

I.2. Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengamati daerah tumbuh pada akar dari kecambah kacang merah (Phaseolus vulgaris).


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan pada tumbuhan berlangsung terbatas pada beberapa bagian tertentu, yang terdiri dari sejumlah sel yang baru saja dihasilkan melalui proses pembelahan sel di moristem. Pembelahan sel itu sendiri mudah dirancukan dengan pembelahan sel tidak menyebabkan pertambahan ukuran, namun produk pembelahan sel itulah yang tumbuh dan menyebabkan pertumbuhan. Ujung akar dan ujung tajuk (apeks) mempunyai moristem. Daerah moristematik lainnya terdapat dikambium pembuluh dan tepat diatas nodus tumbuhan monokotil, atau di dasar daun rerumputan. Moristem apikal tajuk dan moristem apikal akar terbentuk selam proses perkembangan embrio saat pembentukan biji, dan disebut moristem primer.kambium pembuluh dan daerah moristematik pada nodus monokotil dan daun rerumputan tidak mudah dikenali, kecuali setelah perkecambahan terjadi, dinamakan moristem sekunder (Salisbury, 1995).
Pertumbuhan dapat berarti pertambahan volume ukuran. Karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertambahan itu bukan hanya dalam volume, tetapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyak protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pada banyak kajian, pertumbuhan perlu diukur. Teorinya, semua ciri pertumbuhan yang disebutkan tidai bisa diukur, tetapi ada dua macam pengukuran yang lazim digunakan untuk mengukur pertambahan volume atau massa. Pertambahan volume sering ditentukan dengan cara mengukur perbesaran kesatu atau dua arah, seperti panjang (misalnya tinggi batang), atau luas (misalnya luas daun). Pengukuran volume, misalnya dengan cara pemindahan air, bersifat tidak merusak, sehingga tumbuhan yang sama dapat diukur berulang-ulang pada waktu yang berbeda. Pertambahan massa sering ditentukan dengan cara memanen seluruh tumbuhan atau bagian yang diinginkan, dan menimbangnya cepat-cepat sebelum air terlalu banyak menguap dari bahan tersebut (Salisbury, 1995).
Peristiwa penting dalam diferensiasi embrio selama perkecambahan adalah dimulainya perkembangan sel pengangkut dalam prokambium. Waktu perkembangan jaringan pembuluh berkaitan dengan berbagai peristiwa fisiologis. Dalam keping biji, metabolisme diaktifkan dan dikendalikan oleh rangsangan dari sumbu embrio. Gerakan rangsangan itu nampaknya jauh bersamaan dengan terjadinya hubungan vaskular antara sumbu dengan keping biji (Hidayat, 1995).
Baik pada monokotil maupun dikotil, perkecambahan dapat berjenis hipogeal, dengan keping atau kedua keping biji terbungkus oleh kulit biji dan tetap berada dibawah permukaan tanah. Pada jenis perkecambahan epigeal, keping biji terangkat keatas permukaan tanah oleh sumbu embrio yang memanjang (Hidayat, 1995).
Pada embrio telah dimulai organisasi tumbuhan dan susunan jaringannya, yakni protoderm, prokambium, dan moristem dasar. Embrio adalah struktur bersumbu dengan kutub akar dan kutub batang. Polaritas ini, yang telah terlihat dalam susunan sitologis sel telur, tetap menjadi faktor morfogenetik yang dominan dalam diferensiasi kecambah. Efek polaritas terungkap dengan jelas pada perubahan struktur dan aktivitas fisiologis dari ujung sumbu yang satu keujung sumbu yang lain. Pada kecambah dikotil yang tidak memiliki floem internal, jaringan pembuluh hipokotil disebelah atas terbagi menjadi beberapa berkas yang dapat diikuti hingga keping biji. Diantara pucuk dan akar terdapat hubungan antara sistem berkas pembuluh yang silindris pada akar dan sistem berkas pembuluh di hipokotil sebelah atas (Hidayat, 1995).
Pembelahan mitotik pada zigot dan nukleus endosperma menghasilkan biji yang terdiri atas (Kimball, 1992) :
1. Plumula terdiri atas dua daun embrionik, yang akan menjadi daun-daun sejati yang pertama tumbuhan bibit, dan tunas terminal (apikal). Tunas ini adalah moristem dan disanalah akan terjadi pertumbuhan batang yang selanjutnya.
2. Hipokotil dan radikula, yang masing-masing akan tumbuh menjadi batang dan akar primer.
3. Satu atau dua kotiledon, yang menyimpan makanan untuk digunakan biji yang berkecambah. Angiospermae yang membentuk biji dengan dua kotiledon disebut dikotil. Kacang merupakan contoh umum. Yang hanya membentuk satu kotiledon disebut monokotil. Jagung dan rumput-rumputan adalah termasuk monokotil.
Makanan dalam kotiledon berasal dari endosperma yang pada gilirannya memperolehnya dari sporofit tetuanya. Pada banyak angiospermae, endosperma habis dimakan dan simpanan makanannya dipindahakan ke kotiledon pada saat perkembangan biji itu telah selesai. Pada yang lain-lain endosperma itu tetap didalam biji yang matang. Hal ini kita dapati pada beberapa dikotil dan semua monokotil. Sel-sel endosperma biasanya triploid (3n) berlawanan dengan endosperma yang haploid (n) pada konifer dan gymnospermae lainnya (Kimball, 1992).
Dalam arti yang luas, zat warna mencakup bahan organik maupun anorganik, yang mengadakam ikatan dengan tisu tampak lebih jelas untuk diamati. Ditinjau dari berbagai segi, maka zat warna dapat dibedakan atau dikelompokkan pada kategori-kategori tertentu. Pewarnaan itu sendiri bertujuan agar dapat mempertajam atau memperjelas berbagai elemen tissue, terutama sel-selnya, sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan mikroskop (Gunarso, 1989).
Salah satu teknik pewarnaan yang digunakan adalah metode pewarnaan dengan safranin-fast green. Kombinasi dari pewarna ini lebih banyak digunakan bagi jaringan tumbuhan daripada jaringan hewan. Sebelum digunakan fast green, semula digunakan light green SF yang berwarna kekuningan karena warna tersebut mudah sekali menjadi pias (Gunarso, 1989).
Kacang merah (Phaseolus vulgaris), memilki kulit luar biji yang merupakan bekas pelekatan dengan tali pusar, biasanya kelihatan kasar dan mempunyai warna yang berlainan dengan bagian lain kulit biji. Pusar biji jelas kelihatan. Perkecambahannya terjadi di atas tanah (epigaeis), yaitu jika pada perkecambahan, karena pembentangan ruas batang dibawah daun lembaga, daun lembaganya lalu terangkat keatas, muncul diatas tanah, daun lembaga kemudian berubah warna menjadi hijau, dapat digunakan untuk asimilasi, tetapi umurnya tidak panjang. Daun lembaga itu kemudian gugur, dan sementara itu pada kecambah telah terbentuk daun-daun normal yang dapat melakukan tugas asimilasi. Bakal buahnya beruang satu, bakal biji yang beruang satu dapat tersusun atas satu daun buah saja, putik tunggal, yaitu jika putik hanya tersusun atas sehelai daun buah saja (Tjitrosoepomo, 1989).

BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1. Waktu dan Tempat
Percobaan ini dilakukan pada hari Selasa, 27 Maret 2007, pukul 15.00 sampai 16.00 WITA, bertempat di Laboratorium Botani Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.

III.2. Alat dan Bahan
III.2.1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada perobaan ini adalah toples plastik, plat kaca, penggaris, jarum pentul, dan karet gelang.

III.2.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah kecambah kacang merah (Phaseolus vulgaris) Safranin, kertas saring, air, dan kertas label.

III.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja dari percobaan ini adalah :
1. Mengambil 10 buah kecambah kacang merah (Phaseolus vulgaris) yang akarnya lurus dan panjangnya lebih dari 2 cm dan mulai dari ujungnya diberi tanda dengan safranin 10 garis dengan interval 10 mm.
2. Meletakkan kecambah dengan kedudukan tegak pada lempeng kaca yang telah dibalut dengan kertas filter dengan menggunakan karet gelang.
3. Memasukkan lempeng-lempeng kaca yang telah ditempeli kecambah kedalam toples yang telah diisi air kemudian menempatkan 1 toples di tempat yang terang, dan 1 toples ditempat yang gelap.
4. Mengukur jarak masing-masing interval pada setiap kecambah setelah 24 jam dan membandingkannya dengan kontrol.
5. Mencatat perubahan yang diamati dan memasukkannya kedalam tabel pengamatan.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil Pengamatan
Tabel pengamatan setelah 24 jam :

Garis Pertambahan Panjang Tanaman (mm)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 1 2 3 5 7 3 1 1 12 1
2 1 2 - - 1 1 - 2 - 2
3 1 - - - - - - 1 - -
4 1 - - - - - - - - -
5 1 - - - - - - - - -
6 1 - - - - - - - - -
7 1 - - - - - - - - -
8 1 - - - - - - - - -
9 1 - - - - - - - - -
10 1 - - - - - - - - -

Tabel pengamatan pada kontrol

Garis Pertambahan Panjang Tanaman (mm)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 1 - - - - - - - - -

IV.2. Pembahasan
Pada percobaan ini, dilakukan pengamatan tentang daerah tumbuh pada akar kecambah kacang merah (Phaseolus vulgaris). Tanaman yang diamati berjumlah 11 buah. Tanaman ini diberi perlakuan dengan menandaidaerah tumbuh pada akar dan batang dengan menggunakan safranin untuk memberi tanda atau jarak antara interval yang satu dengan interval yang lain pada satu tanaman. Tanaman tersebut kemudian ditempatkan pada tempat yang gelap dan tempat yang terang selama 24 jam, kemudian dilakukan pengamatan terhadap pertambahan panjang dari setiap interval.
Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, tanaman 1 sampai dengan tanaman ke 10 tidak mengalami perubahan yang signifikan, hal ini dapat disebabkan karena sel-sel dalam organ akar tersebut tidak mengalami pembelahan sehingga ukuran panjang pada akar tidak mengalami pertambahan panjang. Kemungkinan lain sel-sel dalam jaringan masih beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ketersediaan nutrisinya terbatas sehingga pembelahan terhambat.
Pada setiap tanaman semuanya mengalami pertambahan panjang pada interval yang paling ujung. Hasil yang diperoleh beragam yaitu pada tanaman 1,7,8,dan 10 bertambah sebanyak 1 mm, pada tanaman 2 bertambah 2 mm, tanaman ke 3 bertambah 3 mm, pada tanaman 5 bertambah 7 mm, tanaman ke 6 bertambahn 3 mm dan tanaman 9 bertambah 12 mm. Hal ini menunjukkan bahwa sel-sel yang terdapat pada ujung akar tanaman tersebut bersifat moristematik, dimana sel-sel pada ujung akar sangat aktif membelah yang diakibatkan oleh oleh sitoplasma yang padat sehingga ruang antar sel hampir tidak ada dan bersifat adaptif terhadap kondisi lingkungan.
Sedangkan daerah yang kurang mengalami pertambahan terdapat pada daerah pangkal akar, karena sebagian besar pembelahan sel sudah lama terhenti, karena hormon pertumbuhan (auksin) pada daerah tersebut kadarnya menjadi sangat rendah.

BAB V
PENUTUP

V.1. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan antara lain :
• Daerah pertumbuhan terjadi pada daerah akar, yaitu pada daerah moristem apikal.
• Adanya pertambahan panjang dari interval pada daerah yang ditandai menunjukkan bahwa tanaman sedang mengalami proses tumbuh.
• Pertumbuhan merupakan suatu proses pertambahan volume yang tidak dapat kembali (irreversible).

V.2. Saran
Sebaiknya dalam percobaan ini digunakan tinta cina yang lebih cepat kering dan tidak mudah luntur, sehingga pertambahan panjang pada interval dapat dilihat dengan baik.







DAFTAR PUSTAKA

Gunarso, W., 1989, Mikroteknik, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hidayat, E.B., 1995, Anatomi Tumbuhan Berbiji, Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Kimball, J.W., 1992, Biologi Jilid 2, Erlangga, Jakarta.

Latunra, A.I., dan Eddyman E.F., 2007, Penuntun Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan II, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Salisbury, F.B. dan Ross, C.W., 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press, Bandung.

Tjitrosoepomo, G., 1989, Morfologi Tumbuhan, Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

3 komentar:

  1. tq...aku senang banget bisa...selaisain makalah aku,.

    BalasHapus
  2. terima kasih banyak
    bisa buat referensi karya tulis aku

    BalasHapus