Jumat, 26 Maret 2010

AIR GULA UNTUK BAYIKU

Oleh : Ustadz Yusuf Mansyur

Awal tahun 2007, IS (inisial nama) adalah seorang pemilik warung nasi di salah satu kota di jawa timur yang sebulan penghasilannya rata-rata hanya cukup buat makan dan ditabung untuk bayar kontrakan. Hidupnya ingin berubah. Suatu saat IS menonton TV. Di sana ada saya katanya sedang bertutur, bahwa kalau mau ditolong Allah, tos-tosan saja sedekahnya. Dan insya Allah akan diganti sama Allah dalam 1 minggu. Itu kalau kita percaya Allah menggantinya dalam 1 minggu. Saat itu, ia ada uang 1 juta rupiah. Uang itu sejatinya ditahan untuk tabungan bayar kontrakan yang 2 bulan lagi bakalan habis. Juga susu anak, listrik, dan lain-lain.

Pertama IS ingin menyedekahkan 600 ribu, dengan harapan Allah akan mengganti 10 kali lipat menjadi 6 juta sehingga bisa buat beli motor. Sisanya buat beli susu anak dll. Tetapi kemudian isterinya bertanya

" Mas yakin ?" IS menjawab " Saya yakin sekali ...ini janji Allah, janjinya pasti ditepati."

Tapi kemudian dia berpikir, kalau cuma 600 ribu tanggung, mengapa tidak semuanya saja disedekahkan?
Akhirnya IS dan istrinya sepakat untuk menyedekahkan seluruh uang itu, dengan segala resikonya. Sekian minggu ia tunggu keajaiban sedekah, tapi tak kunjung datang. Setiap malam qiyamullail, setiap pagi sholat dluha. Susu anak sudah ia gantikan dengan air gula. Biar Allah tahu...Masa katanya mati. Ia kasih biskuit-biskuit kecil pengganjal makanan. Rasa sesal di hati istrinya selalu ia tepis dengan keyakinan bahwa Allah tidak mungkin menyia-nyiakan iman dan amal salehnya atas janji-janji Tuhannya.

Keyakinan dan kesabarannya berbuah. Keridhaan bayinya juga meminum air gula, membuat keberkahan Allah datang. Dan datangnya ga maen-maen. Ia dapat order menangani katering 16.000 orang 3x sehari, alias katering dengan 48.000 porsi per hari. Ini menjadi berkah buatnya.

Hanya dalam hitungan beberapa bulan saja, uangnya sudah 1 milyar.
Dari dia, ada pesan yang disampaikannya lewat saya:

"Sekali sudah ditempuh jalan Allah, tidak ada cerita tidak berhasil....Pasti berhasil.
Hanya... sabar dan terus jalani kehidupan ini.
Biarlah ia mengalir...
Melewati tikungan anak sungai yang namanya kesulitan, kesukaran..
Sebagaimana alaminya alam ini yang berisi dua hal; kesenangan dan kesusahan.
Sungai pasti ada ujungnya.
Dan inilah yang menjadi KEYAKINAN kita."


Ada juga bumbu kisahnya yang tak kalah menariknya.
Di tengah situasinya yang hampir bener-bener game over...
Hampir mereka ini pinjam uang ke kerabat dekat, atau bahkan orang tua.
Tapi mereka ga jadi minjem....Mereka bilang:

"Andai kami jadi pinjam, maka Allah belum tentu bakal turun tangan.
Kami saat itu pasrah dan tawakkal….
Andai kami diusir dari kontrakannya…
Andai kami tidak bisa bayar listrik kontrakannya lalu malu dengan pemilik kontrakan...
Andai kami tidak bisa membeli susu buat anakku lalu anakku jadi sakit, atau mati sekalipun,
Maka biarlah Allah TAHU….
bahwa semua ini terjadi sebab kami berdiri di atas KEYAKINAN akan JANJI-JANJI Allah.
Masa iya itu semua akan terjadi ?"

Begitulah IS dan istrinya meyakinkan diri mereka.
Dan sekalian saja pikir mereka, mereka betul-betul kosong, supaya Allah segera menunjukkan KUASA-Nya.

Subhaanallaah…. Di saat “bercanda” dengan kesusahannya, IS ditanya istrinya,

“Kalau nanti gak bisa bayar kontrakan, kita diusir…nanti kita tinggal dimana?”

IS menjawab dengan yakin sambil menunjuk rumah yang bagus diseberang jalan,

“ Mah, jangan takut, nanti kita akan membeli rumah di depan itu... dan Allah mendengar apa yang aku katakan”

Isterinya menjawab “ Mas yang benar aja, itu pasti mahal sekali”

IS dan istrinya akhirnya memberanikan diri menawar rumah bagus tersebut.
Gak tanggung-tanggung seharga 700 juta rupiah, sebagai “alternatif” andai mereka benar-benar diusir dari kontrakannya.
Dia tawar rumah tersebut, dan mengatakan akan membayar dalam tempo 2 bulan.
Cara bicaranya meyakinkan, sungguhpun si pemilik rumah tidak yakin dengan penampilan pembeli rumahnya.
Dan itu kelak benar-benar terjadi. Masya Allah.

Bahkan bukan hanya rumah itu yang bisa ia beli tepat waktu. Tapi juga ia bisa membangun satu perusahaan katering dengan aset hampir 20 milyaran dalam tempo hanya 1 tahun. Bahkan untuk tahun 2008, dia memegang kontrak katering yang sangat-sangat besar. Sejumlah 37 milyar rupiah.

Subhaanallaah, walhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar